Kabarciayuterkini– Tidak ada papan nama besar atau ruang kerja dengan peralatan lengkap di tempat Kardono berkarya. Di lingkungan sederhana Blok Mekarsari, Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, ia menjalani aktivitasnya dengan keterampilan yang tumbuh dari rasa ingin tahu dan ketekunan.
Bagi Kardono, belajar bukan hanya tentang duduk di bangku sekolah. Ada banyak hal yang justru ia temukan setelah tidak lagi berada di lingkungan pendidikan formal, salah satunya keterampilan membuat kertas daluang.
Saat ditemui wartawan, Rabu, 30 September 2026, Kardono mengisahkan perjalanan yang membawanya hingga menekuni kertas tradisional tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pria kelahiran 21 November 1982 itu merupakan lulusan sekolah dasar. Ia tidak sempat meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya menutup diri dari proses belajar.
Sekitar tahun 2020, Kardono mulai tertarik mempelajari pembuatan kertas daluang. Tidak melalui kursus atau pendidikan khusus, ia belajar dengan mencoba sendiri dan mengandalkan pengalaman yang didapat dari waktu ke waktu.
Setiap percobaan menjadi bagian dari proses belajarnya. Ketika hasilnya belum sesuai, ia mencoba kembali. Dari proses yang berulang itulah pemahamannya terhadap kertas daluang semakin berkembang.
“Sekitar tahun 2020 saya mulai belajar membuat kertas daluang. Saya belajar sendiri, mencoba dari pengalaman, kemudian terus memperbaiki sampai semakin memahami,” ujar Kardono.
Keterampilan yang awalnya dipelajari dari rasa ingin tahu itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih serius. Pada 2023, Kardono mulai memasarkan hasil kertas daluang yang dibuatnya.
Pesanan kemudian mulai berdatangan dari luar daerah. Kertas hasil karyanya dipesan oleh sejumlah pihak dari Jombang, Bandung, hingga Tangerang.
Bagi Kardono, setiap pesanan bukan sekadar hasil dari sebuah pekerjaan. Di dalamnya terdapat perjalanan panjang dari seseorang yang awalnya belajar sendiri hingga mampu menghasilkan karya yang kemudian dimanfaatkan orang lain.
Perjalanan itu juga membawanya ke tempat yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Keterampilan yang diperolehnya secara otodidak membuat Kardono mendapat kesempatan berbagi pengetahuan di lingkungan perguruan tinggi.
Ia pernah diundang ke Universitas Gadjah Mada (UGM), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, serta Universitas Indonesia (UI) untuk berbagi pengalaman mengenai kertas daluang dan keterampilan tradisional yang ditekuninya.
Pada 6 Oktober 2026, kesempatan serupa kembali akan dijalaninya. Kardono mendapat undangan dari salah satu fakultas di Universitas Indonesia, Depok, untuk memberikan pembelajaran mengenai pembuatan kertas daluang kepada mahasiswa.
Ada sebuah perjalanan yang cukup panjang di balik kesempatan tersebut. Dari seseorang yang hanya menyelesaikan pendidikan sampai tingkat SD, Kardono kini memiliki pengetahuan yang justru dibutuhkan untuk dibagikan kepada mereka yang sedang menempuh pendidikan tinggi.
Selain membuat kertas daluang, ia juga mempelajari pembuatan daun lontar serta menerjemahkan aksara Jawa. Semua itu kembali ditempuhnya melalui proses belajar secara mandiri.
Kardono tidak memandang keterbatasan pendidikan sebagai alasan untuk berhenti. Baginya, seseorang masih dapat menemukan jalan belajar selama memiliki kemauan untuk mencoba dan terus mengasah kemampuan.
“Sekolah tetap penting. Tetapi kalau ada yang tidak bisa melanjutkan sekolah, jangan merasa hidupnya berhenti. Masih ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pengalaman dan keterampilan,” katanya.
Ia pun berharap pengetahuan tentang kertas daluang, daun lontar, dan aksara Jawa dapat terus dikenal oleh generasi berikutnya. Menurutnya, keterampilan tradisional akan tetap memiliki arti jika ada orang yang mau mempelajari dan meneruskannya.
Kini, aktivitas Kardono terus berjalan dari tempat sederhana di Blok Mekarsari. Pesanan datang dari berbagai daerah, sementara kesempatan berbagi ilmu juga membawanya berkenalan dengan dunia akademik.
Kisah Kardono bukan tentang tingginya jenjang pendidikan yang pernah ditempuh. Ceritanya lebih banyak berbicara tentang kemauan untuk terus belajar setelah kesempatan sekolah formal tidak lagi terbuka.
Dari tangannya, kertas daluang dibuat menjadi sebuah karya. Namun di balik setiap lembar yang dihasilkannya, tersimpan cerita tentang ketekunan seorang lulusan SD yang memilih untuk terus belajar dan tidak membiarkan keterbatasan menjadi akhir dari perjalanannya.
Bagi siapa pun yang pernah berhenti sekolah atau merasa tertinggal karena keterbatasan pendidikan, perjalanan Kardono menyampaikan pesan sederhana: belajar tidak selalu berhenti ketika seseorang meninggalkan bangku sekolah. Selama masih ada kemauan, selalu ada jalan untuk menemukan kemampuan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.***
Sumber Berita: Liputan lapangan









Komentar