Kabarciayuterkini – Suasana di Balai Desa Ujunggebang, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, mendadak berubah menjadi pusat komando strategis pada Rabu (14/07/2026). Tepat pukul 09.30 WIB, ketika terik matahari mulai menyengat, Peltu Heryanto, anggota Koramil 1614/Anjatan, hadir dengan membawa agenda yang jauh melampaui sekadar pertemuan rutin. Ia tidak datang sendirian; ia membawa visi integratif untuk menyelamatkan desa dari tiga ancaman laten: gagal panen, gangguan keamanan, dan ketidakpastian cuaca. Dalam sebuah Komunikasi Sosial (Komsos) yang intensif dan berbobot, Peltu Heryanto duduk satu meja dengan para pemegang kunci pemerintahan desa: Bapak Robin (Staf Pemerintahan), Bapak Rosidin (Bekel), dan Bapak Indra (Bekel).
Pertemuan ini bukan obrolan santai di beranda. Ini adalah rapat taktis tingkat mikro yang dampaknya makro. Poin pertama yang dibedah tuntas adalah **sektor pertanian**. Sebagai daerah agraris, napas kehidupan warga Ujunggebang bergantung pada hasil bumi. Peltu Heryanto menekankan pentingnya sinkronisasi jadwal tanam dengan prediksi cuaca, serta memastikan distribusi pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan) berjalan tanpa hambatan birokrasi. “Jangan tunggu padi menguning baru kita bergerak. Ancaman hama dan kekeringan harus dicegah dari hulu,” tegasnya, sambil meminta data riil luas lahan aktif dari Bapak Robin.
Poin kedua yang tak kalah krusial adalah **Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat)**. Peltu Heryanto mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi tidak akan berarti jika rasa aman tergangu. Bersama Bapak Rosidin dan Bapak Indra, ia memetakan titik-titik rawan kriminalitas di wilayah desa. Diskusi mengalir deras mengenai revitalisasi sistem ronda, pengawasan terhadap orang asing yang masuk ke desa, serta pencegahan konflik horizontal antar-warga. “Keamanan adalah fondasi. Jika warga takut keluar malam, roda ekonomi macet. Kita harus pastikan Ujunggebang adalah zona nol kejahatan,” serunya dengan nada berwibawa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, yang membuat Komsos ini begitu spesial adalah pembahasan mendalam mengenai **faktor cuaca**. Di tengah perubahan iklim global yang semakin ekstrem di tahun 2026, cuaca bukan lagi sekadar topik basa-basi. Peltu Heryanto mengajak perangkat desa untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam dan informasi dari BMKG. Ia menekankan bahwa antisipasi banjir atau kemarau panjang harus menjadi bagian dari perencanaan desa. “Cuaca adalah musuh sekaligus kawan petani. Kita harus pintar membaca tanda-tandanya agar tidak terjebak dalam bencana,” ujarnya, memberikan perspektif mitigasi bencana yang jarang dibahas dalam forum desa biasa.
Sinergi antara Peltu Heryanto dengan Bapak Robin, Bapak Rosidin, dan Bapak Indra menciptakan dinamika kepemimpinan kolektif yang solid. Tidak ada ego sektoral; semua fokus pada solusi. Mereka menyadari bahwa ketiga pilar ini—pertanian, keamanan, dan cuaca—saling berkaitan erat. Gagal panen akibat cuaca buruk bisa memicu kelaparan, yang kemudian berpotensi memicu pencurian dan kerusuhan sosial. Oleh karena itu, pendekatan holistik seperti yang ditawarkan Peltu Heryanto adalah kunci ketahanan desa.
Kegiatan yang berlangsung hingga selesai tersebut berjalan dengan sangat tertib dan aman. Suasana diskusi penuh dengan gagasan-gagasan konstruktif dan komitmen bersama untuk merealisasikan rencana aksi yang telah disepakati. Dokumentasi yang tertangkap kamera menunjukkan keseriusan wajah para peserta, simbol tanggung jawab besar yang mereka pikul demi kesejahteraan warga Ujunggebang.
Laporan ini disampaikan kepada Dandim 0616/Indramayu sebagai bukti nyata bahwa Koramil 1614/Anjatan, melalui Peltu Heryanto, terus melakukan pembinaan wilayah dengan pendekatan multidimensi. Di tahun 2026 ini, tantangan keamanan dan kesejahteraan semakin kompleks. Melalui aksi strategis ini, Desa Ujunggebang kini memiliki peta jalan yang jelas untuk menghadapi ketidakpastian zaman. Peltu Heryanto telah membuktikan bahwa Babinsa adalah mitra berpikir bagi pemerintah desa, mengubah masalah menjadi peluang, dan ancaman menjadi kewaspadaan. Ini adalah wajah baru pertahanan semesta: cerdas, proaktif, dan solutif di setiap lini kehidupan rakyat.









Komentar